hidup akan lebih indah tanpa narkoba

Jumat, 01 Oktober 2010

BERKOMPUTER MENCEGAH PENGGUNAAN NARKOBA DI KALANGAN ANAK MUDA!

Percaya atau tidak, berkomputer secara intensif
berpeluang rnenghindarkan anak-anak dan remaja dari
penyalahgunaan narkoba! Survei PCplus di berbagai
kota juga mernbuktikan, orang yang menyukai
komputer cenderung lebih tahan terhadap godaan pil
setan itu.

Berita baik buat para orang tua, tentu saja!
Masalahnya, fakta tentang narkoba sendiri
sudah bikin siapapun miris. Data resmi dari Badan
Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan, pengguna
narkoba di Indonesia saat ini sudah mencapai kurang
tebih 4 juta orang, Narkoba sendiri adalah suatu
fenomena gunung es, sehingga korban yang terendam
mengapung di bawah permukaan adalah gumpalan
raksasa yang !tidak bisa dikalkulasi. Fakta lainnya,
infonnasi resmi yang dikeluarkan Mabes TNI AD
(www.mabes.mil.id) menyebutkan, 4 ton narkoba
ditenggak setiap harinya! lagi-lagi itu baru sumber
resmi. Tak resminya? Ya seperti gunung es tadi!
Yang disayangkan, liputan di media selama ini
lustru cenderung mengangkat Isu seputar pengobatan
dan perawatan narkoba semata-mata. Simak saja juduljudul
artikel seperti: Tips mengobati Pecandu Narkoba;
Awas, Narkoba di Ruang Kelas, Narkoba Telah
Hancurkan Keluargaku. Sebagian besar bicara tentang
bagaimana mengobati korban narkoba atau jahatnya
narkoba.
Wajar bila media messa lebih tertarik berbicara
tentang angka 4 juta orang atau 4 juta ton itu ketimbang
bicara perlindungan terhadap ratusan juta orang yang
lain yang semestinya mandapat informasi utuh sekaligus
wra pencegahan narkoba. Bagi media, membeberkan
fakta di balik angka-angka itu memang terasa tebih
dramatis. leblh sensasional, lebih seksi lebih bernilai
juat unggi. Namun akibatnya, konsumen media pun
dibanjiri oleh informasi yang menempatkan korban
narkoba sebagai objek eksploitasi sekaligus objek jualan
medla, dan pada saat yang sama mengabaikan urusan
edukasi bagi masyarakat yang masih sterit dari pengaruh
narkoba. Ini membuat kita seolah-olah dipenjara oleh
semacam kesadaran semu bahwa dunia sekeliling kita
sudah sedemikian sarat dengan narkoba.
Televisi juga setali tiga uang. Sudah setiap
stasiun tetevisi memiliki program dunia kriminat,
hampir setiap hari ada saja yang berita soal
penangkapan bandar atau pengguna narkoba. Seberapa
besar porsinya dibanding berita kriminat tain? Satrio
Arismunandar, news producer Trans TV menegaskan, "
Belum pemah ada riset tentang seberapa banyak porsi
kasus narkoba di tayangan berita kriminalitas televisi,
tetapi umumnya hampir setiap hari ada saja berita
tentang narkoba." Menurutnya, yang diriset untuk acara
tetevisi biasanya adalah rating acara tersebut setiap
bulan, bukan sampai mendetail ke isi beritanya.
Kalaupun mau dicari sampai sedetail itu, Satrio
memastikan belum tersedia datanya.
Yang bisa dipastikan adalah tidak ada satupun
televisi memiliki program rutin tentang pencegahan
narkoba itu.

Sementara itu, rumah sakit yang menangani
pecandu narkoba juga meningkat pesat datam lima
tahun terakhlr. Sementara pasiennya datam dua tahun
terakhir 1.5 kali lipat.
Namun, lagi-lagi, semua rumah sakit yang
melayani pasien narkoba tersebut berperspektif
pengobatan, bukan pencegahan. Di seluruh DKI Jakarta,
saat ini sekurang-kurangnya terdapat 19 rumah sakit
yang menerima pasien narkoba. Yang paling menonjol
adalah Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) di
RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Di daerah selatan
Jakarta sendiri, masih ada lagi RS Puri Cinere. RS
Dharmawangsa, RS Pondok Indah, atau RS Medika
Permata Hijau. Tapi itupun tidak semuanya menampung
pasien narkoba. RS Puri Cinere misalnya. menurut
Marini dari bagian pendaftaran, hanya melayani
detoksifikasi narkoba "Kalau setelah detoksifkasi mau
rawat inap di sini ya boleh. tapi kalau untuk perawatan
dan pencegahan narkoba, kami tidak punya layanan itu."
imbuh Marini.

Dipandang Sebelah Mata
Selama ini. banyak kalangan cenderung
membuatrumusan-rumusan yang besar dan mulukmuluk
-tetapi juga abstrak - dalam rangka program
pemberantasan narkoba.
Rumah Sakit Ketergantungan obat juga
didirikan di mana-mana, klinik-klinik penyembuhan
narkoba tumbuh sangat pesat. Itu cuma sajah satu bukti
bahwa tindakan yang ditempuh adalah tindakan
penyembuhan. bukan pencegahan. Sementara itu,
kampanye dilakukan dengan kata-kata normatif dan
formalistis.
Padahai. titik baru benama "dunia komputer",
entah bermain games atau utak-atik software, ngoprek
atau ngutakatik PC, adalah salah satu dari sekian banyak
titik C itu.
Sayangnya, perhatian untuk membuat supaya
iklim itu bisa tumbuh lebih subur rnasih terhalang oleh
banyak hal. Salah satunya adalah mahalnya harga
komputer untuk ukuran masyarakat luas. Bayangkan
saja, petumbuhan komputer setiap tahunnya di
Indonesia tidak sampai 700 ribu unit, sementara tingkat
kepemilikan PC di seluruh Indonesia tidak menyentuh
angka 10 persen dari jumlah penduduk. Pada kondisi di
mana peredaran narkoba sudah menembus wilayahwilayah
kota kecil dan pedesaan, penyebaran dan
penggunaan komputer secara masif baru berlangsung di
kota-kota yang relatif besar.
Oleh karenanya, tawaran pembelian PC murah
yang menjadi salah satu program Asosiasi Pengusaha
Komputer Indonesia (Apkomindo), seharusnya bisa
diletakkan datam kerangka membangun titik C yang
lebih atraktif buat anakanak muda di negeri ini.
Komputer memang sudah menjadi kebutuhan banyak
keluarga modern untuk membantu mereka
menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Tetapi, rasanya
tepat juga apabila komputer sekarang ini didorong
sebagai suatu kebutuhan untuk tindakan perventif bagi
banyak keluarga di negeri ini, yang didera oleh ancaman
narkoba yang mengintip dari luar jendela rumah
mereka.
Selain perangkat dan infrastruktur, yang juga
diperlukan adalah pengembangan komunitas-komunitas
penggemar dan pengguna komputer. Komunitas gamers,
tukang oprek, desainer grafis, pengguna Linux, desainer
Web, dan sebagainya, selama ini dipandang lebih
sebagai wadah pengembangan teknis dan belum dilihat
dalam kacamata yang lebih Iuas. Seharusnya,
komunitas-komunitas di lingkungan komputer tersebut
lebih banyak mendapat ekspos dan tempat untuk
beraktualisasi bagi kagiatan mereka, serta diberikan
lebih luas dalam kerangka kampanye penyadaran dan
pencegahan bahaya narkoba.
Dus, jangan sekali-kali pandang komputer dan
manfaatnya sebelah mata! (PC)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar